Gagasan Moral Kebangsaan

REVOLUSI MENTAL

Dalam Perspektif Al-Qur'an

PENGERTIAN

 

Istilah revolusi (latin: revolutio) sesungguhnya lebih dahulu muncul sebagai istilah teknis dalam sains. Secara denotatif, revolusi berarti "kembali lagi" atau "berputar arah"; ibarat musim yang terus berganti secara siklikal untuk kembali ke musim semula. Maka, dalam sains, istilah revolusi mengimplikasikan suatu ketetapan (konstanta) dalam perubahan; pengulangan secara terus-menerus yang menjadikan akhir sekaligus awal. Pengertian seperti inilah yang terkandung dalam frase ”revolusi planet dalam orbit” atau revolusi paradigmatik Copernican tentang perubahan pusat alam semesta (dari geosentrisme menuju heliosentrisme).

Istilah revolusi ketika dikaitkan dengan mental, mengandung tidak lagi dalam pengertian teknis, tetapi bergeser secara konotatif menjadi yang didefinisikan Thomas Kuhn sebagai ”perubahan dalam susunan paradigma”. Dalam hal ini, revolusi mental berarti “suatu perubahan dalam cara fikir dan bertindak sesuai dengan keyakinan yang melatarinya”.

 

UNSUR KEBARUAN

 

Pengertian revolusi seperti itulah yang kemudian diadopsi oleh wacana dan gerakan sosial-politik. Penggunaan istilah revolusi dalam bidang politik memperoleh popularitasnya menyusul Revolusi Amerika (1776) dan terlebih setelah Revolusi Perancis (1789). Seperti halnya revolusi dalam sains, pengertian revolusi dalam politik pun pada mulanya mengandung konotasi yang ramah, hingga Revolusi Perancis berubah jadi ekstrem dalam bentuk teror yang menakutkan.

Sebenarnya, yang esensial dalam suatu revolusi adalah ”kebaruan”. Hannah Arendt (1965) mengingatkan bahwa ”Konsep modern tentang revolusi terkait dengan pengertian bahwa jalannya sejarah seketika memulai hal baru. Revolusi mengimplikasikan suatu kisah baru, kisah yang tidak pernah diketahui atau diceritakan sebelumnya”. Revolusi menjadi jembatan yang mentransformasikan dunia lama jadi dunia baru.

Oleh karena itu, revolusi sejati yang berdampak besar dalam transformasi kehidupan harus mengandung kebaruan dalam struktur mental, yaitu meniscayakan perubahan mentalitas (pola pikir dan sikap) yang lebih kondusif bagi perbaikan kehidupan. Urgensi revolusi mental seperti ini sejalan dengan firman Tuhan dalam Al Quran (QS al-Ra’d: 11/QS. Al-Anfal:53): "Sesungguhnya Allah tidak mengubah apa yang ada pada sebuah kaum hingga mereka mengubah apa yang ada pada jiwa (dalam konteks ini bisa disebut “mental”) mereka."

 

 

IMAN: MODAL DASAR PERUBAHAN

 

Perubahan mental (pola pikir dan sikap) sangat ditentukan arahnya oleh sistem keyakinan sebagai modal penggerak. Dalam istilah Alquran, sistem keyakinan ini disebut dengan “iman” yang secara mendasar (etimologis: إيمان) berarti sistem kesiapan dan keterbukaan menerima kebaikan dan kebenaran (Toshihiko: 1966) yang bernilai universal dan absolut yang berasal dari Tuhan.

Betapapun, sifat dan kebutuhan dasar manusia adalah meraih kebaikan dan kebahagiaan hidup, tidak hanya di dunia tapi juga di akhirat. Pemenuhan atas kebutuhan dasar tersebut diyakini bersumber dari Tuhan. Maka dalam pemenuhan kebutuhan dasar, manusia seyogyanya tunduk dan komitken pada kebaikan dan kebenaran, dan tidak menutup diri (kafir) sehingga menimbulkan penolakan dan penyimpangan dalam bentuk kejahatan yang justru bertentangan dengan sifat dasar manusia itu sendiri.

 

Ketika manusia kehilangan komitmennya pada kebaikan dan kebenaran, maka pada saat yang sama muncullah kejahatan dan dekadensi kemanusiaan. Meminjam istilah statistika, hubungan kebaikan dan keburukan adalah hubungan negatif (negative correlation). Sehingga dapat dipastikan, jika iman seseorang stabil dan kokoh, maka yang lahir dari pikiran dan sikap adalah tebaran-tebaran kebaikan dan keadilan. Namun jika iman mengalami degradasi, maka yang muncul adalah pikiran dan sikap yang jahat. Dalam kontek ini, sangat tepat kalau Rasulullah SAW. selalu mengingatkan ummatnya dengan mengatakan: جددوا إيمانكم ... “perbaharuilah selalu iman mu” (HR.  Ahmad dari Abi Hurairah)

 

IMPLIKASI IMAN DAN NILAI STRATEGIS

Sistem keyakinan (iman: إيمان) memiliki implikasi yang paling nyata dalam kehidupan, baik pikiran maupun sikap atau perbuatan. Implikasi iman ini dapat ditelusuri lewat citra etimologis dari perubahan kata iman itu sendiri. Menurut Ibnu Faris dalam al-Maqayis fi al-Lughah nya, bahwa iman setidaknya terkait dengan amanah (أمانة), aman (أمن) dan amin (أمين) dalam suatu lingkaran eksis yang sinergi

Amanah (امانة) berarti kesiapan dan keterbukaan untuk menjalankan fungsi dan tanggungjawab yang dibebabankan kepada seseorang dengan integritas yang tinggi, profesional dan berkeadilan, sehingga tidak terjadi penyelewengan atau disfungsi peran (khianat). Amanah ini yang diingatkan Allah dalam firmanNya (Q.S. al-Nisa: 59): “Sesungguhnya, Allah menyuruhmu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan apabila kamu menetapkan  hukum diantara manusia hendaknya kamu menetapkannya dengan adil.”

 

Aman (أمن) berarti kesiapan dan keterbukaan untuk menerima amanah tersebut, sehingga si pemberi amanah dan yang menerima amanah sama-sama merasakan adanya kenyamanan dan kedamaian, bersikap toleran, saling bekerjasama, saling percaya dan tidak saling mencurigai dan apalagi menyakiti, baik ucapan maupun perbuatan tanpa alasan yang dapat dibenarkan. Rasulullah SAW berujar: “Orang muslim adalah orang yang lisan dan perbuatannya bisa mencitrakan kedamaian antar sesama” (HR. Bukhari dari Abdullah bin Amr).

 

Sedangkan Amin (أمين) berarti kesiapan dan keterbukaan untuk menerima harapan-harapan baru, sehingga memunculkan sikap optimis dan rasa percaya diri, kreatif dan inovatif, tanpa harus ada ketergantungan yang berlebihan dengan pihak lain. Kata “amin” inilah sering terucap dalam setiap doa yang dipanjatkan mengiringi setiap langkah perbuatan, dengan tujuan agar Allah SWT mengabulkan segala maksud dan kehendak. Dalam konteks ini cukup terkenal ungkapan Latin: ora et labora (berdoa sambil bekerja) karena doa dalam ungkapan arab adalah “otaknya” amal ibadah (addu’a mukhul ibadah).

 

Impliasi-implikasi iman tersebut di atas memiliki nilai strategis dalam penerapan kehidupan berbangsa dan bernegara, terutama jika dikaitkan dengan konsep Trisakti yang pernah diutarakan Bung Karno dalam pidatonya tahun 1963 dengan tiga pilarnya, ”Indonesia yang berdaulat secara politik”, ”Indonesia yang mandiri secara ekonomi”, dan ”Indonesia yang berkepribadian secara sosial-budaya”.